24 September 2014

Teh di pagi hari

Teh pagi ini
Wangi melati
Pemberian dari hati

Manisnya pagi ini
Dari maksud yang murni
Terasa hingga kedalaman sanubari

Kalau saja tiap pagi seindah ini
Manisnya rasa dan hangatnya mentari
Surga sudah ada sejak di bumi

23 September 2014

Untuk Kamu Di Sana



Kamu setengah dewasa
Tidak perlu lagi sedu sedan
Tak pantas lah lari sebagai jawaban
Hadapi semua dan ambillah makna darinya

Kamu tidak lagi dimanja
Masa di mana segala keinginan adalah kebutuhan
Rengek yang menjadi peluruh permintaan
Usah kau gunakan lagi, sudah bukan waktunya

Kini berubah

Kamu sudah bisa dipercaya
Menjaga ibumu adalah darma yang mesti engkau emban
Hadir dalam doa dan hatinya, tentulah kebahagiaan
Kenyataan ia di sini, engkau di sana

Bilamana bisa
Wujudkan harapmu dalam bisikan
Ibumu kan mendengarkan
Ia akan berusaha

Terakhir,
Kamu tidak sendiri
Kami ada di sini
Meski kita tidak seindah yang kamu bayangkan
Namun, semoga keindahan itu adalah pengertian

Tetaplah berjalan

Kamu tidak sendirian

Cobalah tengok ke belakang

Doa kami panjatkan

Perempuan tua di pinggir jalan



Perempuan tua di pinggir jalan
Mengemis dan mandamba harapan

Duduk, mata mengiba dan mulut penuh dengan kamitan
Apalagi dalam hidupnya selain menunggu kematian?

Belas kasih sehari, sebulan, setahun tak kan mengubah kenyataan
Bilamana dia sediakala, hidup hanya membentang penderitaan

Mungkin, baginya kebahagiaan adalah kematian
Saat yang ditunggu untuk tidak lagi melihat pagi dan malam
Melainkan moksa yang melepas segala wujud keduniawian:
Sakit, senang
Tawa, tangisan
Termasuk harapan

Bila Tuhan kau temukan
Tanyakan mengapa mesti ada harapan dan penderitaan