27 Agustus 2008

Bubur Ayam Malam

Bubur ayam,.... 15 detik kemudian, bubur ayam
Suara tua, sedikit parau namun tetap lantang sampai kejauhan beberapa meter
Sudah setengah delapan malam, siapa pula yang mau menawar?
Gerobaknya menjelang usang, dan terangnya hanya lilin yang kian padam
Aku haru oleh kuatnya, juga haru oleh semangatnya
Tentunya bukan karena giatnya, namun karena desakan
Juga bukan karena mimpinya (mimpinya pastilah sudah terkubur oleh realitas), namun oleh kebutuhan
Tak habis pikir akan malam ini,
akan gerobak itu, buburnya, juga suara serta langkah agak patah
Siapa pula yang hendak menawar? Tapi ia tetap menarik dan memekik,”Bubur ayammmmmm”

22 Agustus 2008

Di atas sana


di atas sana, kita menemukan segalanya
segala hal yang tak semua mampu untuk dilihat ketika datar disini

di atas sana,
seluruh amarah kita menguap bersama udara
segenap hasrat kita penuh oleh kepuasan sabda
segala ragu kita terjawab oleh suguhan nyata kehidupan
karena kita dimampukan melihat segala dari ujung vertikal puncak sumbu X

bahagia aku bila sudah di atas sana
tuntas sudah perutusan sehidupku

sekarang aku masih di sini, pada dataran dan hamparan horisontal perbedaan
kalian yang sudah di atas sana, doakan kami
sampaikan padaNya,
"horisontal kami seringkali terlampau vertikal"

05 Agustus 2008

Aku berhadapan dengan sang ruang dan sang waktu

Gak tau ya, tapi hari ini semua terasa dan tampak tawar

Senyum sepintas hanya sebentuk kurva di bibir

Sayur di lidah juga berbalik pada cibir

Terlebih rangkuman hidup sehari cenderung asam yang tak kunjung berakhir

 

Mungkin sang kala punya "rasio"nya sendiri untuk beralasan meninggalkanku sementara

Sampai tidak menyisakan waktunya bagiku untuk bersenang-senang

Mungkin juga ruang berhak "sirik" untuk memonopoli dirinya

Hingga aku sulit bergerak merenggangkan tekanan di batin ini

 

Ya, hari ini begitu sempurna justru oleh kesan-kesan yang tak muncul sebagai kesan sepatutnya

Manis enggak, pahit apalagi

Seneng enggak, sedih juga enggak

 Marah enggak, mau tertawa juga nggak punya alasan untuk itu

Tinggal satu, tawar……..

Ya itu mungkin rasanya "BT". Anggaplah manusia punya saat dan tempatnya untuk menghadapi situasi begini supaya bisa benar-benar merasakan yang begitu.

Menulis seperti ini, jadi terpikir kurang intelek, walau terasa begitu elok. Siapa peduli pula. Sudah tertuang, begitu saja.
 

 +622192232183